Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2016

Ringkasan Film Laskar Pelangi

          Untuk yang masih penasaran atau yang belum tau tentang 
"LASKAR PELANGI"
Silakan dibaca saja ringkasan berikut. . . . . .
 Yang mau langsung Nonton Vidionya Klik aja Disini :  Maaf Masih di Proses




          Novel Laskar Pelangi menceritakan tentang kisah nyata dari sepuluh anak yang tinggal di sebuah desa yang bernama desa Gantung yang berada di Kabupaten Gantung, Belitung Timur. Mereka bersekolah di sebuah SD yang bernama SD Muhammadiyah yang bangunannya nyaris roboh. Sekolah itu nyaris oleh Departemen Pendidikan Kabupaten Sumatera Selatan , karena murid yang bersekolah di SD Muhammadiyah tersebut tidak berjumlah 10 anak sebagai persyaratan minimal. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan. Kesembilan anak tersebut adalah Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, dan Trapani. Akan tetapi, tepat ketika Pak Harfan Efendy Noor (Kepala Sekolah SD Muhammadiyah) hendak berpidato untuk menutup SD Muhammadiyah. Ada seorang ibu beserta anaknya yang bernama Harun datang untuk mendaftarkan Harun ke sekolah SD Muhammadiyah tersebut. Jika tidak ada Harun, seorang anak berusia 15 tahun dengan keterbelakangan mental yang disekolahkan ibunya agar tidak cuma bisa mengejar anak ayam di rumah, tentu tidak pernah terjadi kisah ini. Akhirnya SD Muhammadiyah tersebut tidak jadi ditutup dan Harun lah yang menyelamatkan SD Muhammadiyah tersebut.


          Dari sanalah dimulai cerita tentang mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan Efendy Noor (Kepala Sekolah SD Muhammadiyah), perkenalan mereka yang luar biasa dimana A Kiong yang malah cengar – cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Muslimah, kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama ikal, sampai pertaruhan nyawa dari seorang anak yang bernama Lintang, dia adalah salah satu anak dari nelayan yang sangat miskin, setiap hari Lintang mengayuh sepeda sejauh 40 km jarak dari rumahnya menuju ke sekolah, rumah Lintang berada di desa tanjung kelumpang yaitu desa yang letaknya sangat jauh di tepi laut, setiap hari Lintang melewati 4 kawasan pohon nipah yang tempatnya lumayan seram, tidak jarang ada buaya yang sangat besar melewati kawasan tersebut, walaupun begitu Lintang tetap rajin dan bersemangat berangkat ke sekolah dan tidak pernah bolos untuk ke sekolah dan bertemu dengan Bu Muslimah, guru yang penuh kasih namun penuh dengan komitmen untuk mencerdaskan anak didiknya dan tidak akan pernah ada Laskar Pelangi sebuah nama yang diberikan oleh Bu Muslimah karena kesenangan mereka terhadap pelangi yang di saat musim hujan selalu melakukan ritual melihat pelangi pada sore hari dengan bertengger pada dahan – dahan pohon filicium yang ada di depan kelas mereka. Saat susah maupun senang mereka lalui di dalam kelas yang menurut cerita pada malam harinya kelas tersebut sebagai kandang bagi hewan ternak. Di SD Muhammadiyah itulah Ikal dan kawan – kawannya memiliki segudang kenangan yang menarik.


          Seperti saat kisah percintaan antara Ikal dan A Ling. Pada awalnya Ikal disuruh oleh Bu Muslimah untuk membeli kapur di toko milik keluarga A Ling. Ikal jatuh cinta pada kuku A Ling yang indah. Ia tidak pernah menjumpai kuku seindah itu. Kemudian ia tahu bahwa pemilik kuku yang indah tersebut adalah A Ling, Ikal pun jatuh cinta pada A Ling. Namun, pertemuan mereka harus diakhiri karena A Ling pindah untuk menemani bibinya yang sendiri.
Kejadian tentang Mahar yang akhirnya menemukan ide untuk perlombaan semacam karnaval. Mahar menemukan sebuah ide untuk menari dalam acara tersebut. Mereka para Laskar Pelangi menari seperti orang kesetanan,hal tersebut dikarenakan kalung yang mereka kenakan dari buah langkah dan hanya ada di Belitung, merupakan tanaman yang membuat seluruh badan gatal. Akhirnya mereka pun menari layaknya orang yang tengah kesurupan. Namun, berkat semua itu akhirnya SD Muhammadiyah dapat memenangkan perlombaan tersebut.
Namun pada suatu ketika datanglah anak yang bernama Flo, seorang anak kaya pindahan dari Sekolah PN Timah, ia masuk di dalam kehidupan Laskar Pelangi. Sejak kedatangan Flo di SD Muhammadiyah tersebut membawa pengaruh buruk dan negatif  bagi teman – temannya terutama Mahar, yang duduk satu bangku dengan Flo. Sejak kedatangan Flo, nilai Mahar seringkali jelek sehingga Bu Muslimah marah dan kecewa kepada Mahar.

Hari – hari mereka selalu dihiasi dengan canda dan tawa maupun tangisan. Namun di balik semua keceriaan mereka, ada seorang murid yang bernama Lintang yaitu anggota Laskar Pelangi yang perjuangannya terhadap pendidikan perlu diacungi jempol. Ia rela menempuh jarak 80 km pulang pergi dari rumahnya untuk menuju ke sekolah hanya untuk agar bisa belajar. Ia tidak pernah mengeluh meski saat perjalanan menuju sekolahnya, ia harus melewati danau yang terdapat buaya di dalamnya. Lintang merupakan salah satu murid yang paling cerdas. Terbukti saat Lintang, Ikal, dan Sahara saat mengikuti sebuah perlombaan cerdas cermat. Ikal dapat menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru dari sekolah kaya PN Timah yang berijazah dan terkenal dengan jawabannya yang membuat ia memenangkan lomba cerdas cermat tersebut.
Namun, semua kisah indah Laskar Pelangi harus diakhiri dengan perpisahan seorang Lintang yang sangat cerdas dan jenius itu. Lintang dan kawan – kawan membuktikan bahwa bukan karena fasilitas yang menunjang yang akhirnya dapat membuat seseorang sukses maupun pintar, namun kemauan dan kerja keraslah yang dapat mengabulkan setiap impian dari seseorang. Beberapa hari kemudian, setelah perlombaan tersebut Lintang tidak masuk sekolah dan akhirnya kawan – kawan Lintang dan juga Bu Muslimah mendapatkan surat dari Lintang yang berisi bahwa Lintang tidak dapat melanjutkan sekolahnya karena ayahnya Lintang meninggal dunia. Tentu saja hal tersebut menjadi kesedihan yang mendalam bagi anggota Laskar Pelangi.
Beberapa tahun kemudian, saat mereka telah beranjak dewasa, mereka semua banyak mendapat pengalaman yang berharga dari setiap cerita di SD Muhammadiyah. Tentang sebuah persahabatan, ketulusan, yang diperlihatkan dan diajarkan oleh Bu Muslimah, serta sebuah mimpi yang harus mereka wujudkan. Ikal akhirnya mendapat beasiswa dan bersekolah di Paris, sedangkan Mahar dan teman – teman lainnya menjadi seseorang yang dapat membanggakan Belitung.






Sabtu, 03 Januari 2015

Asal Usul, Sejarah, Kerajaan, Zaman Kolonialisme, dan Kehidupan Masyarakat di Negeri Bangka – Belitung

Karna saya sendiri orang belitung jadi sekalian aja saya memperkenalkan kepada kalian sejarah dan asal usul kampung halamanku!!!

1. Sejarah Bangka Belitung
 Asal Usul Bangka Belitung
Bangka Belitung merupakan daerah kepulauan, terdiri dari Pulau Bangka, Belitung serta beberapa pulau kecil lainnya. Kondisi topografi kepulauan ini terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah dan bukit-bukit. Di derah rawa, banyak tedapat hutan bakau, sementara kawasan perbukitan dipenuhi hutan lebat. Di daerah pesisir, terdapat pantai yang landai berpasir putih dengan dihiasi hamparan batu granit.
Kepulauan ini terletak di bagian timur Sumatra. Di bagian barat kepulauan, terdapat Selat Bangka yang memisahkan Bangka dengan daratan Sumatera; di sebelah timur, terdapat Selat Karimata; di sebelah selatan, terbentang Laut Jawa; sementara di bagian utara, terhampar luas Laut Natuna yang berhubungan langsung dengan Laut Cina Selatan. Antara pulau Bangka dan Belitung dipisahkan oleh Selat Gaspar.
Kepulauan Bangka dan Belitung merupakan bagian dari wilayah perairan Sumatera, yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan dunia sejak dulu kala. Kesatuan wilayah perairan Sumatera tersebut meliputi kawasan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, khususnya yag dibatasi oleh pantai timur Sumatera dan pantai Kalimantan Barat. Di kesatuan perairan tersebut, terdapat Bangka Belitung, dan juga Kepulauan Riau-Lingga. Sejak dulu, perairan ini berfungsi sebagai penghubung antara negeri di atas angin (sub benua India, Persia dan Arab) dengan negeri di bawah angin (nusantara) dan Asia Timur (Cina).
Sejarah mengungkapkan bahwa, kepulauan ini telah lama dihuni penduduk. Pada abad ke-7 M, diperkirakan kebudayaan Hindu telah berkembang dan penduduknya memeluk agama Hindu. Berkaitan dengan kerajaan, belum didapat data sejarah yang menceritakan tentang tumbuh dan berkembangnya kerajaan tertentu di daerah ini. Sejarah hanya mengungkapkan bahwa, kepulaun ini dikuasai silih berganti oleh berbagai kerajaan di nusantara dan juga komplotan bajak laut. Menurut sejarah, kerajaan yang pernah menguasai Bangka Belitung adalah Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Johor, Mataram, Banten dan Kesultanan Palembang. Selain itu, Bangka Belitung juga pernah dikuasasi oleh penjajah Belanda dan Inggris.
 Bangka Belitung dan Penjajah Eropa.
Sekitar tahun 1709 M, ditemukan timah di pulau Bangka. Pada awalnya, penambangan timah dilakukan oleh orang-orang Johor di Sungai Olin, Toboali. Selanjutnya, pada tahun 1710 M, Bangka sudah menjadi sumber timah yang terkenal ke seluruh dunia. Para pedagang dan penambang timah banyak yang berdatangan ke Bangka. Bahkan dikabarkan, Sultan Palembang yang masih memiliki klaim teritorial atas Bangka Belitung mengirimkan utusan ke Cina mencari tenaga ahli penambangan yang sangat dibutuhkan.
Pada tahun 1717 M, mulai diadakan perhubungan dagang dengan VOC untuk penjualan timah. Pada saat itu juga, Sultan Palembang meminta bantuan VOC untuk membasmi bajak laut dan mencegah penyelundupan timah.
Sebagai tindak lanjut berikutnya, pemerintah kolonial Belanda mengirimkan misi dagang ke Palembang, dipimpin oleh Van Haak. Salah satu tujuan pengiriman misi dagang ini adalah untuk meninjau hasil timah dan lada di Bangka. Sekitar tahun 1722 M, VOC mengadakan perjanjian yang mengikat dengan Sultan Palembang, Ratu Anum Kamaruddin untuk memonopoli perdagangan timah. Menurut Van Haak, isi perjanjian adalah:
Sultan Palembang hanya boleh menjual timah pada kompeni(VOC) Kompeni boleh membeli timah sesuai dengan jumlah yang mereka perlukan.
Akibat perjanjian yang hanya menguntungkan Belanda ini, banyak yang menyelundupkan hasil timahnya ke negeri lain, demi mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. Dalam upaya untuk mengeksploitasi Bangka lebih jauh, pemerintah Belanda mengirimkan misi lagi pada tahun 1803 M, dipimpin oleh V.D. Bogarts dan Kapten Lombart.


Dalam perkembangannya, terjadi perubahan penguasa di Bangka Belitung, dari Belanda ke Inggris. Perubahan ini diawali dengan penandatangan Perjanjian Tuntang pada 18 September 1811 M. Berdasarkan perjanjian ini, Belanda harus menyerahkan daerah-daerah taklukannya kepada pihak Inggris, meliputi Jawa, Timor, Makasar, Palembang dan daerah taklukan lainnya.
Selama berada di bawah kekuasaan dua negara kolonial kelas satu dunia ini, nasib Bangka Belitung sangat memprihatinkan. Timah digali secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan nasib kaum pribumi dan lingkungan. Kecurangan, pemerasan dan eksploitasi yang melampaui batas telah menimbulkan kebencian di hati penduduk pribumi, sehingga muncul perlawanan terhadap Belanda. Selama bertahun-tahun, di bawah pimpinan Depati Merawang, Depati Amir, Depati Bahrin dan Tikal, rakyat Bangka Belitung mengangkat senjata untuk mengusir Belanda dari daerahnya. Namun, perlawanan rakyat Bangka Belitung ternyata tidak mampu mengalahkan Belanda, hingga Belanda tetap bercokol dan menguasai pulau ini.
Ketika terjadi Perang Dunia II, Bangka Belitung dikuasai oleh pasukan Jepang, terhitung sejak tahun 1942 hingga 1945. pada tahun 1949, kepulauan ini menjadi bagian dari negara kesatuan Republik Indonesia.
Demikianlah, Bangka Belitung dikuasai oleh berbagai kerajaan besar, mulai dari Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Johor, Banten, Kesultanan Palembang, Inggris, Belanda, Jepang, dan terakhir menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Silsilah para Penguasa di Bangka Belitung
Berdasarkan catatan sejarah, di Bangka Belitung tidak terdapat satu kerajaan yang berdiri sendiri, karena itu, agak rumit untuk menjelaskan silsilah para penguasanya. Para penguasa yang pernah berkuasa hanyalah perwakilan dari kerajaan induk, seperti Sriwijaya, Majapahit, Johor, Banten dan sebagainya.
3. Periode Pemerintahan Kerajaan di Bangka Belitung
Berdasarkan data sejarah yang ada, belum didapat keterangan yang jelas mengenai pemerintahan suatu dinasti atau keturunan orang tertentu di Bangka Belitung. Pemerintahan yang pernah ada hanyalah perwakilan dari kerajaan induk yang datang silih berganti, tergantung pada kerajaan yang menguasaimya.
4. Wilayah Kekuasaan Kerajaan di Bangka Belitung
Bangka Belitung adalah daerah yang dikuasai, bukan menguasai. Oleh sebab itu, menjelaskan wilayah kekuasaan Bangka Belitung tak lebih dari menjelaskan batas geografis pulau ini, yaitu: Selat Bangka di bagian barat; Selat Karimata di bagian timur; Laut Jawa di bagian selatan; dan Laut Cina Selatan (Laut Natuna) di bagian utara.
5. Struktur Kekuasaan Kerajaan di Bangka Belitung
Ketika dikuasai oleh kerajaan besar, Bangka Belitung dipimpin oleh perwakilan kerajaan-kerajaan tersebut. Contohnya, ketika Bangka Belitung dikuasai Banten, yang berkuasai adalah Bupati Nusantara, utusan Sultan Banten; ketika dikuasai Palembang, yang berkuasa adalah Wan Akup dan keturunannya. Bagaimana struktur pemerintahan di sini? Belum didapat informasi yang menjelaskan tentang itu semua.
6. Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat di Bangka Belitung
Secara umum, bisa dijelaskan bahwa masyarakat setempat hidup dari sektor pertanian. Pada masa dulu, mereka banyak yang menanam rempah-rempah. Komoditas yang paling terkenal adalah lada. Ada sebuah alat pertanian khas Bangka yang sering digunakan untuk membersihkan rumput di kebun lada, namanya kedik. Alat ini biasanya digunakan oleh kaum perempuan, karena bentuknya yang ringan dan kecil.
Ketika timah ditemukan, masyarakat setempat banyak yang berprofesi sebagai penggali timah. Pulau ini pernah juga menjadi pusat bajak laut di perairan timur Sumatera. Namun, tidak ada penjelasan, dari mana asal para bajak laut tersebut.
Rumah orang-orang Bangka Belitung biasanya berbentuk panggung, terutama mereka yang bermukim di dataran rendah, seperti pantai dan rawa-rawa. Berkaitan dengan senjata, mereka memiliki senjata yang berbentuk seperti layar kapal, berat dan lebar. Oleh karena itu, senjata ini juga bisa digunakan untuk memotong kayu atau menebang pohon.
Selain itu semua, masyarakat Bangka juga memiliki jenis musik tersendiri yang disebut gambus. Dari namanya, tampak jelas bahwa musik ini berkembang setelah masyarakat setempat mendapat pengaruh kebudayaan Islam. Berkaitan dengan bahasa, masyarakat setempat menggunakan bahasa Melayu dialek khas Bangka.

Rabu, 07 Mei 2014

SEJARAH BELITUNG DAN BERAKHIRNYA KERAJAAN ISLAM DI BELITUNG

Sejarah Belitung dan Berakhirnya Kerajaan Islam di Belitung

SEJARAH BELITUNG DAN BERAKHIRNYA KERAJAAN ISLAM DI BELITUNG
Oleh
Al Fitri Johar Chaniago, S.Ag., SH., M.HI
(Hakim Pratama Madya Pengadilan Agama Tanjungpandan)
1.      Gambaran Singkat Belitung.[1]
Belitung, atau Belitong (bahasa setempat, diambil dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau ini terkenal dengan lada putih (Piper sp.) yang dalam bahasa setempat disebut sahang, dan bahan tambang tipe galian-C seperti timah putih (Stannuum), pasir kuarsa, tanah liat putih (kaolin), dan granit. Serta akhir-akhir ini menjadi tujuan wisata alam alternatif. Pulau ini dahulu dimiliki Britania Raya (1812), sebelum akhirnya ditukar kepada Belanda, bersama-sama Bengkulu, dengan Singapura dan New Amsterdam (sekarang bagian kota New York). Kota utamanya adalah Tanjung Pandan.
Pulau Belitung terbagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar.Sebagaian besar penduduknya, terutama yang tinggal di kawasan pesisir pantai, sangat akrab dengan kehidupan bahari yang kaya dengan hasil ikan laut. Berbagai olahan makanan yang berbahan ikan menjadi makanan sehari-hari penduduknya. Kekayaan laut menjadi salah satu sumber mata pencaharian penduduk Belitung. Sumber daya alam yang tak kalah penting bagi kehidupan masyarakat Belitung adalah timah. Usaha pertambangan timah sudah dimulai sejak zaman Hindia Belanda.Penduduk Pulau Belitung terutama adalah suku Melayu (bertutur dengan dialek Belitung) dan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka.
Secara geografis pulau Belitung (Melayu ; Belitong) terletak pada 107°31,5' - 108°18' Bujur Timur dan 2°31,5'-3°6,5' Lintang Selatan. Secara keseluruhan luas pulau Belitung mencapai 4.800 km² atau 480.010 ha.Pulau Belitung disebelah utara dibatasi oleh Laut Cina Selatan, sebelah timur berbatasan dengan selat Karimata, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan sebelah barat berbatasan dengan selat Gaspar. Di sekitar pulau ini terdapat pulau-pulau kecil seperti Pulau Mendanau, Kalimambang, Gresik, Seliu dan lain-lain.

2.      Sejarah Belitung

Belitung merupakan kepulauan yang mengalami beberapa pemerintahan raja-raja. Pada akhir abad ke-7, Belitung tercatat sebagai wilayah Kerajaan Sriwijaya, kemudian ketika Kerajaan Majapahit mulai berjaya pada tahun 1365, pulau ini menjadi salah satu benteng pertahanan laut kerajaan tersebut. Baru pada abad ke-15, Belitung mendapat hak-hak pemerintahannya. Tetapi itupun tidak lama, karena ketika Palembang diperintah oleh Cakradiningrat II, pulau ini segera menjadi taklukan Palembang. Sejak abad ke-15 di Belitung telah berdiri sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Badau dengan Datuk Mayang Geresik sebagai raja pertama. Pusat pemerintahannya terletak di sekitar daerah Pelulusan sekarang ini. Wilayah kekuasaaannya meliputi daerah Badau, Ibul, Bange, Bentaian, Simpang Tiga, hingga ke Buding, Manggar dan Gantung. Beberapa peninggalan sejarah yang menunjukkan sisa-sisa kerajaan Badau, berupa tombak berlok 13, keris, pedang, gong, kelinang, dan garu rasul. Peninggalan-peninggalan tersebut dapat ditemui di Museum Badau.[2] 
Peta Pulau Belitung
Kerajaan kedua adalah Kerajaan Balok. Raja pertamanya berasal dari keturunan bangsawaan Jawa dari Kerajaan Mataram Islam bernama Kiai Agus Masud atau Kiai Agus Gedeh Ja'kub, yang bergelar Depati Cakraningrat I dan memerintah dari tahun 1618-1661. Selanjutnya pemerintahan dijalankan oleh Kiai Agus Mending atau Depati Cakraningrat II (1661-1696), yang memindahkan pusat kerajaan dari Balok Lama ke suatu daerah yang kemudian dikenal dengan nama Balok Baru. Selanjutnya pemerintahan dipegang oleh Kiai Agus Gending yang bergelar Depati Cakraningrat III. Pada masa pemerintahan Depati Cakraningrat III ini, Belitung dibagi menjadi 4 Ngabehi, yaitu :
1.      Ngabehi Badau dengan gelar Ngabehi Tanah Juda atau Singa Juda;
2.      Ngabehi Sijuk dengan gelar Ngabehi Mangsa Juda atau Krama Juda;
3.      Ngabehi Buding dengan gelar Ngabehi Istana Juda.
Masing-masing Ngabehi ini pada akhirnya menurunkan raja-raja yang seterusnya lepas dari Kerajaan Balok. Pada tahun 1700 Depati Cakraningrat III wafat lalu digantikan oleh Kiai Agus Bustam (Depati Cakraningrat IV). Pada masa pemerintahan Depati Cakraningrat IV ini, agama Islam mulai tersebar di Pulau Belitung. Gelar Depati Cakraningrat hanya dipakai sampai dengan raja Balok yang ke-9, yaitu Kiai Agus Mohammad Saleh (bergelar Depati Cakraningrat IX), karena pada tahun 1873 gelar tersebut dihapus oleh Pemerintah Belanda. Keturunan raja Balok selanjutnya yaitu Kiai Agus Endek (memerintah 1879-1890) berpangkat sebagai Kepala Distrik Belitung dan berkedudukan di Tanjungpandan. Kerajaan ketiga adalah Kerajaan Belantu, yang merupakan bagian wilayah Ngabehi Kerajaan Balok. Rajanya yang pertama adalah Datuk Ahmad (1705-1741), yang bergelar Datuk Mempawah. Sedangkan rajanya yang terakhir bernama KA. Umar. Kerajaan keempat atau yang terakhir yang pernah berdiri adalah Kerajaan Buding, yang merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Balok. Rajanya bernama Datuk Kemiring Wali Raib. Dari keempat kerajaan yang telah disebutkan diatas, Kerajaan Balok merupakan kerajaan terbesar yang pernah ada di Pulau Belitung.
a.      Masa Pendudukan Belanda dan Jepang.
Pertambangan tungsten dan timah yang dikelola Perusahaan Billiton Maatschapij di Belitung (1942). Pada abad ke-17, Pulau Belitung menjadi jalur perdagangan dan tempat persinggahan kaum pedagang. Dari sekian banyak pedagang, yang paling berpengaruh adalah pedagang Cina dan Arab. Hal ini dapat dibuktikan dari tembikar-tembikar yang berasal dari Wangsa Ming abad ke-14 hingga ke-17, yang banyak ditemukan dalam lapisan-lapisan tambang timah di daerah Kepenai, Buding, dan Kelapa Kampit. Berdasarkan catatan dari sejarawan Cina bernama Fei Hsin (1436). Sedangkan orang Cina mengenal Belitung disebabkan pada tahun 1293, pedagang-pedagang Cina tersebut masuk ke Pulau Belitung sekitar tahun 1293. Sebuah armada Cina dibawah pimpinan Shi Pi, Ike Mise dan Khau Hsing yang sedang mengadakan perjalanan ke Pulau Jawa terdampar di perairan Belitung.
Selain bangsa Cina, bangsa lain yang banyak mengenal Pulau Belitung adalah bangsa Belanda. Pada tahun 1668, sebuah kapal Belanda bernama 'Zon De Zan Loper', dibawah pimpinan Jan De Marde, tiba di Belitung. Mereka merapat di sungai Balok, yang saat itu merupakan satu-satunya bandar di Pulau Belitung yang ramai dikunjungi pedagang asing.  Berdasarkan penyerahan Tuntang pada tanggal 18 September 1821, Pulau Belitung masuk dalam wilayah kekuasaan Inggris (meskipun secara de facto terjadi pada tanggal 20 Mei 1812). Residen Inggris di Bangka, mengangkat seorang raja siak untuk memerintah Belitung karena di pulau kecil ini sering terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh tetua adat. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Komisaris Jenderal Kerajaan Inggris tanggal 17 April 1817, Inggris menyerahkan Belitung kepada Kerajaan Belanda. Selanjutnya atas nama Baginda Ratu Belanda, ditunjuk seorang Asisten Residen untuk menjalankan pemerintahan di Pulau Belitung.
Pada tahun 1823, seorang Kapten berkebangsaan Belgia bernama JP. De La Motte, yang menjabat sebagai Asisten Residen dan juga pimpinan tentara Kerajaan Belanda, berhasil menemukan timah di pulau tersebut. Selanjutnya seusai Traktat London tahun 1850, penambangannya diambil alih oleh Billiton Maatschapij, sebuah perusahaan penambangan timah milik Pemerintah Belanda. Pada saat itu Belitung terbagi atas 6 daerah, yaitu :
1.       Tanjungpandan dan Gantung/Lenggang yang berada langsung dibawah pemerintahan Depati;
2.       Badau, Sijuk, Buding dan Belantu yang berada dibawah pemerintahan masing-masing Ngabehi.
Pada tahun 1890, pangkat Ngabehi dihapus dan digantikan dengan Kepala Distrik. Selanjutnya terdapat 5 distrik yaitu : Tanjungpandaan, Manggar, Buding, Dendang dan Gantung. Tahun 1852 Belitung dipisahkan dari Bangka dalam urusan administrasi dan kewenangan penambangan timah. Pemisahan tersebut atas desakan JF. Louden (kepala pemerintahan pusat di Batavia), untuk mencegah pengaruh buruk dari Residen Bangka yang iri melihat pertambangan timah yang berkembang dengan pesat di Belitung. Dalam rangkaian sistem pemerintahan Hindia Belanda, pada tahun 1921 Belitung dijadikan sebuah distrik yang dikepalai oleh seorang Demang yaitu KA. Abdul Adjis, yang dibantu 2 orang Asisten Demang yang membawahi 2 onder district, yaitu Belitung Barat dan Belitung Timur. Gemeente atau kelurahan di Belitung dibentuk pada tahun 1921-1924. Berdasarkan Ordonantie No. 73 tanggal 21 Februari 1924, Belitung terbagi menjadi 42 Gemeente.
Pada tahun 1933, Belitung berubah status menjadi satu Onder-afdeling yang diperintah oleh seorang Controleur dengan pangkat Assistant Resident, yang bertanggung jawab kepada Residen dari Afdeling Bangka - Belitung yang berkedudukan di Pulau Bangka. Tanggal 1 Januari 1939 berlaku peraturan baru di wilayah di wilayah Belitung, yang berarti Pulau Belitung sudah diberi hak untuk mengatur daerahnya sendiri. Tentu saja hal tersebut memengaruhi beberapa keadaan, misalnya Onder-afdeling Belitung meliputi 2 distrik yaitu, Distrik Belitung Barat dan Distrik Belitung Timur, yang masing-masing dikepalai oleh seorang Demang.
Tentara Jepang menduduki Pulau Belitung pada bulan April 1944, pemerintahan dikedua distrik dikepalai oleh Gunco. Pada awal tahun 1945, Jepang membentuk Badan Kebaktian Rakyat di Belitung yang bertugas membantu pemerintahan. Masa pendudukan Jepang tidak lama, selanjutnya terjadi perubahan kembali ketika tentara Belanda kembali menguasai Belitung pada tahun 1946. Pada masa pemerintahan Belanda ini, Onder-afdeling Belitung diperintah kembali oleh Asisten Residen Bangsa Belanda, sedangkan penguasaan distrik tetap dipegang oleh seorang Demang yang kemudian diganti dengan sebutan Bestuurhoofd.
b.      Masa Kemerdekaan
Pulau Belitung sebagai bagian dari Residensi Bangka - Belitung, beberapa tahun lamanya pernah menjadi bagian dari Gewest Borneo, kemudian menjadi bagian Gewest Bangka - Belitung dan Riau. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, karena muncul peraturan yang mengubah Pulau Belitung menjadi Neolanchap. Selanjutnya sebagai badan pemerintahan dibentuklah Dewan Belitung pada tahun 1947. Pada waktu pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS), Neolanchap Belitung merupakan negara tersendiri, bahkan karena sesuatu hal tidak menjadi negara bagian. Tahun 1950 Belitung dipisahkan dari RIS dan digabungkan dalam Republik Indonesia. Pulau Belitung menjadi sebuah kabupaten yang termasuk dalam Provinsi Sumatera Selatan dibawah kekuasaan militer, karena pada waktu itu Sumatera Selatan merupakan Daerah Militer Istimewa. Sesudah berakhirnya pemerintahan militer, Belitung kembali menjadi kabupaten yang dikepalai oleh seorang Bupati.
Pada tanggal 21 November 2000, berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000, Pulau Belitung bersama dengan Pulau Bangka memekarkan diri dan membentuk satu provinsi baru dengan nama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan Ibu Kota Provinsi Kota Pangkalpinang. Provinsi ini merupakan provinsi ke-31 di Indonesia. Berdasarkan aspirasi masyarakat dan berbagai pertimbangan, Kabupaten Belitung dibagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung beribukota di Tanjungpandan dengan cakupan wilayah meliputi 5 kecamatan dan Kabupaten Belitung Timur dengan beribukotakan Manggar dengan cakupan wilayah meliputi 4 kecamatan.
Saat sekarang  Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur sedang giat-giatnya membangun dengan berbagai fasilitas dan infrasturuktur seiring dengan perkembangan zaman, sementara untuk meningkatkan PADnya kedua kabupaten ini sedang gencar-gencarnya membangun dan mempromosikan wisata pacsa tambang timah dengan mengelar berbagai macam acara dan kegiatan baik setaraf local, regional, nasional bahkan tingkat internasional untuk menarik wisatawan domestic dan internasional untuk berkunjung ke Negeri Laskar Pelangi ini, di antaranya Sail Wakatobi Belitung tahun 2011 yang dihadiri oleh Wakil Presiden RI Bapak Prof. DR. Boediono, yang puncak acaranya dipusatkan di Tanjungkelayang Beach.
 Tanjungtinggi Beach in Belitong Island
Bahwa untuk berkunjung ke Belitung saat ini infrasturuktur telah berjalan pesat, seperti keberadaan bandara yang nyaman dengan 4 kali sehari penerbangan ke Jakarta, 1 kali sehari ke Palembang dan 2 kali sehari ke Pangkalpinang, sementara dengan kapal cepat Express Bahari ke Pulau Bangka 1 kali sehari dapat ditempuh selama 4 jam, demikian juga kendaraan operasional seperti Damri, jasa Travel dan ojeg selalu tersedia. Sementara untuk penginapan dan hotel berbintang juga telah banyak yang berdiri, seperti penginapan Wisama Adithia 4 km dari bandara yang jika menginap bisa secara bulanan dan harian dengan harga terjangkau.[3]
4.      Akhir Pemerintahan Islam di Belitung.[4]
SEJAK wafatnya KA Usman, roda pemerintah dijabat oleh anaknya yang bernama KA Hatam yang bergelar Depati Cakraninggrat VII. Pada zamannya, KA Hatam mendatangkan para penggali timah dari China di Johor lewat Tumasik.
SEPENINGGALAN Cakraninggrat IV KA Bustam, pemerintahan Islam di Belitung jatuh ke tangan anaknya bernama KA Abudin. KA Budin yang bergelar Depati Cakraninggrat V memerintah dari tahun 1740-1755. Pada masa pemerintahan KA Abudin, Balok mengalami kemunduran.  Pemerintahannya kurang mendapat simpati dari rakyat lantaran wataknya yang otoriter. Termasuk adiknya yaitu KA Usman, menjauhi istana dan mendirikan pemukiman baru di Sungai Cerucuk.
Sikap masyarakat di kerajaan Balok terpecah menjadi dua hingga mereka yang tidak puas dengan pemerintahan KA Abudin mengadu kepada KA Usman. Karenanya, KA Usman meminta bantuan pada Sultan Palembang, pengaduan ini membuat KA Abudin marah hingga  pertentangan tak terhindarkan. Perkelahian tak dapat ditawar, peristiwa ini dikenal dengan sebutan begaris tanah tak ada yang kalah dalam peristiwa di tepi Sungai Berutak ini. Namun utusan Palembang telah datang menjemput KA Abudin. KA Abudin tidak diperkenankan pulang ke Belitung, ia menikah lagi di Palembang. Keturunan KA Abubin hingga kini tetap menyandang gelar KA atau Ki Agus. Raja ke V ini meninggal di Palembang dan dimakamkan di Pelayang dan kekuasaan jatuh ke tangan KA Usman yang bergelar Depati Cakraningrat VI.
KA Usman kemudian membagi wilayah kekuasaan kepada anak-anak KA Abudin yang ditinggalkan. Yang tertua KA Rantie tetap mendiami Balok, KA Gunong Kurung berdiam di Gunung Labu tempat asal neneknya Putri Gunong Labu. KA Munti di beri wilayah di sekitar Gunung Petebu sekarang Parit Tebu dan Nyi Ayu Muncar ikut tinggal ke salah seorang abangnya.  Oleh KA Usman, KA Munti yang kemudian dinikahkan dengan Nyi Ayu Busu yaitu anak dari KA Usman sendiri. Perkawinan antar sepupu ini dimaksudkan agar kedua keluarga yang dulu berseteru kini kembali dekat. Perkawinan itu melahirkan KA Luso, NA Tenga, NA Kumal. KA Luso kemudian menurunkan KA Jalil. Keluarga ini dikenal dengan sebutan bangsawan Gunong Petebu. Kekuasaan Depati Cakraningrat VI KA Usman berakhir sekitar tahun 1885. KA Usman wafat setelah armada perahunya diserang oleh bajak laut di muara dekat Pulau Kalamoa. Mayatnya hingga kini tak diketemukan.
Sejak wafatnya KA Usman, roda pemerintah dijabat oleh anaknya yang bernama KA Hatam yang bergelar Depati Cakraninggrat VII. Pada zamannya, KA Hatam mendatangkan para penggali timah dari China di Johor lewat Tumasik. Hubungan dengan orang China ini, menyebabkan KA Hatam mengambil istri kedua seorang China yang kemudian menjadi mukhalaf  dengan gelar Dayang Kuning. Tahun 1786, setelah Inggris menguasai Pulau Pinang dan sekitarnya, perdagangan timah dari Belitung dihentikan oleh Depati sendiri. Tahun 1813, Inggris oleh Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan Jendral Gillespie menguasai Palembang dan Mayor W Robinson meduduki  Bangka kemudian mengutus Tengku Akil dari Siak guna menguasai Belitung. Tengku Akil mendapat perlawanan, dalam peretempuran itu Depati KA Hatam tewas dengan kepala terpotong. Anaknya yang masih berusia muda,  KA Rahad dan beberapa saudaranya yang lain berhasil diselamatkan sepupunya KA Luso. KA Luso dan orang-orang berhasil mengusir Tengku Akil hingga tengku Akil lari ke Pulau Lepar. Tahun 1821-1854, masa perjuangan dan pemrintahan Depati Cakraninggrat VIII, KA Rahad. Masa-masa ini pemerintah Hindia Belanda terus berupaya untuk menguasi Belitung dan mencari bijih timah.
Sekitar tanggal 21 Oktober 1821, datanglah Syarif Mohamad dari Palembang guna membuka jalan bagi masuknya Belanda ke Belitung dan mengibarkan untuk pertama kali bendera Belanda di Tanjung Simba. Syarif Mohamad mencoba menguasai kedudukan Depati KA Rahad yang masih berusia muda, tapi upaya itu tak berhasil. Di zamannya, KA Rahad membagi wilayah Belitung menjadi enam distrik yang sebelumnya baru ada empat ngabehi. KA Rahad menggunakan istilah distrik untuk mengganti istilah ngabehi karena Belanda mulai mendata wilayah itu dengan menulis dan menyebutkan kata distrik untuk wilayah ngabehi. Enam distrik baru itu adalah Tanjungpandan dan Lenggang. Kedua distrik ini tidak dipimpin oleh ngabei tapi langsung oleh keluarga raja, Disrik Tanjungpandan dipimpin oleh KA Mohamad Saleh, sedangkan Distrik Lenggang oleh KA Luso. Tahun 1854 Depati KA Rahad meninggal dunia, dimakamkan di Air Labu Kembiri. Sejak saat itu KA Mohamad Saleh (adik KA Rahad) diangkat menjadi Depati Cakraningrat IX, sekaligus raja Islam terakhir yang berkuasa di Belitung. Ia meninggal dunia pada tahun  1876 dan dimakamkan dekat makam ramondanya KA Rahad di Cerucuk. Priode berikutnya, Belitung dikuasai oleh Belanda, gelar depati dihapus dan diganti dengan kepala distrik. Penghapusan jabatan depati ini sekaligus mengakhiri priodeisasi pemerintahan Islam di Belitung.

Kamis, 10 April 2014

SEJARAH KEDATANGAN ISLAM

Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang sangat mundur. Kebanyakkan orang Arab merupakan penyembah berhala dan yang lain merupakan pengikut agama Kristen dan YahudiMekah ketika itu merupakan tempat suci bagi bangsa Arab. karena di tempat tersebut terdapat berhala-berhala agama mereka dan juga terdapat Sumur Zamzam dan yang paling penting adalah Ka'bah.

Nabi Muhammad saw dilahirkan di Makkah pada Tahun Gajah yaitu pada tanggal 12 Rabi'ul Awal atau pada tanggal 20 April (570 atau 571 Masehi). Nabi Muhammad merupakan seorang anak yatim sesudah ayahnya Abdullah bin Abdul Muttalib meninggal ketika ia masih dalam kandungan dan ibunya Aminah binti Wahab meninggal dunia ketika ia berusia 7 tahun. Kemudian ia diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Setelah kakeknya meninggal ia diasuh juga oleh pamannya yaitu Abu Talib. Nabi Muhammad kemudiannya menikah dengan Siti Khadijah ketika ia berusia 25 tahun. Ia pernah menjadi penggembala kambing.
Nabi Muhammad pernah diangkat menjadi hakim. Ia tidak menyukai suasana kota Mekah yang dipenuhi dengan masyarakat yang memiliki masalah sosial yang tinggi. Selain menyembah berhala, masyarakat Mekah pada waktu itu juga mengubur bayi-bayi perempuan. Nabi Muhammad banyak menghabiskan waktunya dengan menyendiri di gua Hira untuk mencari ketenangan dan memikirkan masalah penduduk Mekah. Ketika Nabi Muhammad berusia 40 tahun, ia didatangi oleh Malaikat Jibril. Setelah itu ia mengajarkan ajaran Islam secara diam-diam kepada orang-orang terdekatnya yang dikenal sebagai "as-Sabiqun al-Awwalun(Orang-orang pertama yang memeluk agama Islam)" dan selanjutnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah.
Pada tahun 622, Nabi Muhammad dan pengikutnya pindah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa ini dinamai Hijrah. Semenjak peristiwa itu dimulailah Kalender Islam atau kalender Hijriyah.
Penduduk Mekah dan Madinah ikut berperang bersama Nabi Muhammad saw. dengan hasil yang baik walaupun ada di antaranya kaum Islam yang tewas. Lama kelamaan para muslimin menjadi lebih kuat, dan berhasil menaklukkan Kota Mekah. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, seluruh Jazirah Arab di bawah penguasaan Islam.
 
Blogger Templates