Dibawah Tingkap LangitMu, diatas Sejadah rumput hijauMu....
Kami bertanam...,
Mengembara dari satu bening embun ke titik Rindu dikhatulistiwa..
Hingga sepuluh musim Pelangi
menggiat...,
dipelataran jiwa, memutik harum Langit-langit dan jendela.., serta
dinding memantul gelak pingkal tawa...
Sepuluh Musim tanam, bergelora,
menggigil, berhasrat disetiap ujung hari...,
Kau Janini hasratku dengan
pelukan erat dan lembut jari-jari rohmu, mengabadi...,
Kau sambangi palung hening-bening rahim cintaku, sujud-tegak suci
menasbih...,
Sepuluh Musim kita merupa-mengembari diri..., meneteskan kembang lucu
hati Sepuluh musim, dan sepuluh musim tak henti datang.... lalu pergi
bersama manis...,
AKu dan kau masih setia berladang dan bertanam.... tak boleh lelah
apalagi mati....,
Karena Rasa mengabadi...karena Cinta sudah
mematri...pada anak-anak kita!
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 April 2014
TERSESAT
mengapa kau coba banjiri lautan dgn air mata?
tak lelahkah jemarimu memetiki angin?
sekarang, lagi-lagi kau berenang dilautan kata-kata?
apa yg kau timbun dipalung rahimmu selain lelah?
sementara surat cintaku yg sebaris tak sempat kau baca
kau masih diawang-awang yg tak bertuan itu,
hingga malam gelap dgn misteriusnya menjemput?
Mengapa rindu harus tersesat dirimba kata-kata yg mampu menyayat logam?
Buat aku memahami tarikan masgul napasmu yang gundah mendayu
Karena aku sudah lelah mengeja-ngeja Bab yang melayu dikening batu
Lewat angin yang menderu, coretkan isyarat membuka tabir terdahulu
Agar aku mahfum kemarahan dari gemeretak gigimu, di diam bisumu
IBU
Entah berapa kerutan perjuangan tergurat pada kulitmu...,
yang semakin melegam...
Beberapa diantaranya memeta dimata pelangimu... yang selalu membuncahkan cinta.
Jemarimu membesi menghalau, melabuh angkara yang diam-diam menyekam.
Bibir mawarmu, setiap hari mengidungkan damai.... yang tak lekang termakan kala...
Ketika waktumu sampai.., ketika ragamu ikhlas..., malaikat menebar melati putih...,
Berbantal Perkamen doa..., berkendara Firman nan agung..., kau mengangkasa...,
Ibu Entah berapa lama kunikmati senyum mawar merah bibirmu..., yang selalu bertasbih...,
Aku tegak..., menjadi wanita seperti syair-syair masa mudamu.., meneteskan madu....
Ibu, tenang dan tenanglah disana..., bermain, bersukalah dulu..., kami belum selesai...,
Beberapa depa didepan harus kami cangkuli..., membersihkan jalan menuju pulang...
Ibu, Hanya beberapa kejap lagi..., kami harus sahabati waktu dengan Ridha Illahi...
Tanda amal dipunggung kami tak cukup..., mengganti ongkos Pelangi meng-awang...,
Ibu, Kau lihat cucumu? juga memiliki mawar merah bibirmu..., padanya mengembar...,
Ya ibu, kau tetap rapal doa untuk kami.., memerisai sampai ditingkap-tingkap kamar...
IBU, KAMILAH BUAH CINTA DAN DOA MAWAR MERAH BIBIRMU
SURAT BUAT ''TUHAN''
Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa...
Jika Engkau mengasihiku....
Tolong catatkan dalam buku nasibMU..
Agar dia yang telah mengcengkram jantungku...
Dan memiliki benihku didalam tubuhnya...
Untuk Kau ikat rohnya disemesta ini bersama-sama dengan rohku........
Tuhan Yang Maha Kasih...
Aku mengadu kepadaMU...
Bahwa dia yang memiliki lekukan tubuh...,
Seperti jernih sungai yang berkelok-kelok
Yang telah mengabadi dirasaku...
Jangan kirimkan orang lain padaku...
Jangan jadikan yang lain kekasih surgaku...
Tetapi cukup dia...
Amin.......
KEMARAHAN YANG PENAT
Warna merah tegar pudar dari jantung senjaku...
Keringat yang pernah membesi kini cuma butir air keruh...
Meleleh mencabik pori-pori yang luka ditikam waktumu...
Pernah terpikir bahwa akulah kekosonganmu yang mengaduh...?
Kalam berarak dikelambu langit yang membuncahkan jingga...
Mengulapi jiwa-jiwa pertapa...didunia sunyinya yang keluh..
Aku menatih dan menatah sepotong marah yang hingar dijiwa...
Membungkam lapar mulut busuk iblis yang men-daki ditubuh...
Kebenaran terasa pahit dan berduri diatas bantal tidurku...
Dan Senja menjadi semakin merah dan malu telungkup kekiblat...
Lalu kenapa ekor matamu masih meneriakkan kecabulan bisu...?
Tak pernah kau lihat dan rasa bahwa jiwamu marah karena penat....?
Takdir tak mengenal jalan bengkok...lekat seperti jiwa..
Dan masa mengantarku sampai khatulistiwa....
Masa menitipkan benihnya dipikir...
Masa menemaniku sampai liangnya...
Masa menjadi tonggak...
Masa mengabur....
Masa terkubur...
Masa kembali..
Masa kita abadi...
Keringat yang pernah membesi kini cuma butir air keruh...
Meleleh mencabik pori-pori yang luka ditikam waktumu...
Pernah terpikir bahwa akulah kekosonganmu yang mengaduh...?
Kalam berarak dikelambu langit yang membuncahkan jingga...
Mengulapi jiwa-jiwa pertapa...didunia sunyinya yang keluh..
Aku menatih dan menatah sepotong marah yang hingar dijiwa...
Membungkam lapar mulut busuk iblis yang men-daki ditubuh...
Kebenaran terasa pahit dan berduri diatas bantal tidurku...
Dan Senja menjadi semakin merah dan malu telungkup kekiblat...
Lalu kenapa ekor matamu masih meneriakkan kecabulan bisu...?
Tak pernah kau lihat dan rasa bahwa jiwamu marah karena penat....?
Takdir tak mengenal jalan bengkok...lekat seperti jiwa..
Dan masa mengantarku sampai khatulistiwa....
Masa menitipkan benihnya dipikir...
Masa menemaniku sampai liangnya...
Masa menjadi tonggak...
Masa mengabur....
Masa terkubur...
Masa kembali..
Masa kita abadi...
Tragedi Aku & DIA
Dipelataran kaki lima itu berserakan
daun kering yang retak.
Seperti musim gugur, ranting pohon
merangas dan kesepian.
Tak ada tunas baru yang hijau, rapuh seperti sesunguk isak.
Hanya sengat mentari, melepuhkan
kulit dengan kepenatan.
Beberapa musim lalu, pernah
ada satu musim hangat.
Pelataran itu penuh semerbak liuk pinggul bunga mekar.
Aku memintanya menetap, dan sungguh kau merapat.
Lau musim berganti warna
menjadi hingar-bingar makar.
Sesekali kuterbangkan ingatanku pada
musim penghujannya.
Menyesali seribu bercak embun, berbarah dan marah diputiknya.
Sesekali kukunjungi, menabur bunga
perkabungan dipusaranya.
Pelataran impian itu hanya
menyisakan nisan tragedi aku dan dia.
Aku enggan mengakui aku terseok
mengejar jingga dicakrawala.
Memburu satu titik pertemuan malam
dengan dinginnya.
Aku masih ingin memburu kesadaran
yang bukan abu-abu.
Tetap, dan menetap disatu waktu yang
tak berpola tanpa ragu.
Akulah pemburu jingga dari
sudut-sudut pelataran kaki lima itu.
Akulah pemburu Jingga yang tak pernah
akan meragu.
Akulah Pengumpul daun-daun berserakan
dari waktumu.
Akulah juga yang akan membukakan
pintu pulangmu!
PULANG
Senja luruh
diputik daun - senja yang mengaduh - pilu.
Senja makar
pada raga rapuhnya, senja meremas jantungnya.
Diujung sana
bulan kemayu, berhasrat tanpa ragu atau malu.
Bibirnya
terus dipenuhi sensasi - dahaga yang selalu bisu.
Berapa
tikungan tajam lagi mengintai, menuju senja tafakur?
Berapa
hasrat purba lagi akan terhambur diudara basah malam?
Pintu-pintu
masih saja tertutup, Kekasih surga masih pulas tertidur.
Jalan-jalan
masih saja dipenuhi para pemanggil bergaun hitam.
Kerap rembulan dan magis - manis bibirnya mengundang.
Menawarkan
perapian, membara - diujung malam hening.
Jejaknya tercecer jelas dikerling matamu nan bening.
Baiklah waktu tiba, dan senja tersungkur - bak daun kering.
Senja mahfum dan mengangguk, walau luka makin mengkoreng.
Senja akan
terus berkerut, membalut luka lalu tidur berkalang.
Penat berhasil membujuknya, untuk diam dan menyinsing.
Karena percaya semesta akan adil, karena semua cinta akan pulang.
Langganan:
Postingan (Atom)